Pada Tanah Yang Indah
Dalam mata yang bersih merayap cahaya yang jernih,
aku sama menagih kemerdekaan kekasih.
Dalam dada yang mesra tenang telaga cinta,
aku janji setia membela tanah pusaka.
Kira ribut mendurja mengancam tanah yang indah
setapak tiada kurela untuk melutut kecewa.
Biar peluru selaksa mendendam liar mangsanya
untuk kekasih pusaka matiku tetap rela.
Dalam hati berlari berbaja kasih di hati,
azam besi berumbi melebur penjajah di bumi!
Dalam rindu berpadu, hitam dendam terpendam,
aku terlalu rindu fajar cemerlang menjelang.
Hati ini seluruh kasihkan kekasih sepenuh,
berjanji yang teguh hingga badanku luluh!
27 November 1956
*Dalam menanti kemerdekaan yang semakin hampir.


Saya membayangkan suasana 1956, saat ketika puisi ini terhasil. Yang pasti dimana jua pun dihasilkan, MALAYA ketika itu adalah TANAH YANG INDAH tika menanti kemerdekaan negara. Indahnya pekan Kampar, sunyinya Alor Gajah, bersihnya pantai Morib, jernihnya Sungai Muar,sejuknya Kota Bahru.
[Reply]
sangat menarik, terima kasih
[Reply]