Lidah Tsunami

Ia datang dengan lidah yang sangat liar,
gelembung diri dalam gelombang yang besar;
air yang lembut kini cemeti yang keras,
berbisik tentang fananya alam yang waras.

Ia mula kebisuan luar biasa,
walaupun ufuk ternyata damai awalnya.
Tapi, lantai bumi retak cemas di laut,
pesan yang hanya difaham ikan yang takut.
Ruang terkejut kosong, laut nafas murka,
sebelum mimpi tak terimbas pun bahaya.
Ombak menari dalam busana biasa,
meluncur dan serentak merentap segala,
darah dan lumpur mula akrab bersaudara.

Dan selepas lidah air kuat berpulas
di sisi jerit dengung yang terlalu buas,
insan menjadi bauran renda yang satu,
terkapar kalah oleh gelombang seteru,
warna lumpur menjadi selimut sebati
dalam bingung yang terlalu berteka-teki.

Tsunami menggertak ketabahan negara -
merobah batas diri, merangsang bersatu,
melebarkan jalur luka, menggugah qalbu.
Ia mencairkan warna kulit, mensyahdu
ketar batin dan menenung mata yang gamam
serta mulut yang ternyata terkejut bungkam,
dan serentak juga merangsang manusia -
bangsa yang berbeza dari mana pun juga
menjadi warga tanah terdera yang sama.

Air telah pun berkuak menjadi ombak;
ombak tergesa lari dikejar gelora,
dan gelora cepat sebati dengan angin
yang amat galak menjerit semurka mungkin.
Tsunami, lidah ombak memang tak terduga,
sayang dan marah memang rahsia jantungnya,
mengerlipkan iktibar yang wajar dibaca,
pesan berhikmah di sebalik serangannya.

Dan kita insan yang sedang dalam pusaran -
rumah dan kapal, pepohon, titi dan pagar -
serentak saja menjadi rakan terdera,
takjub, nahas yang sempat mengakrabkan kita!
Pada senja yang malam, dan dini yang subuh,
pagi yang siang, kini tangis seluruh,
dan semua qalbu berdoa dalam syahdu,
memohon tabah dan keberkatan baru.

Hari ini duka yang hebat,
tangan musim yang menggeletar,
jantung bumi yang terluka -
nafas lara kita bersama.

Tragedi ini ucapan tamsil di abad mula,
Ya Allah, lindungilah kami dari malapetaka.

30-31 Disember 2004

One Response to “Lidah Tsunami”

  1. nik ariff raja yusoff says:

    MENGHITUNG TSUNAMI
    Kita yang sarat dengan kesumatnya dendam
    Kita yang tenggelam dalam ghairahnya berahi
    Hingga kemarukkan duniawi menjadi manusia lupa diri
    Gagal menghitung payah mencari
    Siapa sebenarnya diri diantara peluang hidup dan mati.

    Tsunami datang untuk pergi
    Kenangan terakam dan sejarahnya kekal berisi
    Dalam tajamnya benak menilai dan meneliti
    Kembalilah pulang menyerah diri
    Taubat nasuha pengubat hati
    Membersih diri sebelum kembali

    [Reply]

Leave a Reply